Mengenal Perjalanan Sejarah Trofi Piala Dunia dari Masa ke Masa

A

Redaksi

16 July 2026, 04:35 WIB

Bayangkan keriuhan di stadion saat kapten tim mengangkat sebuah benda emas yang berkilau di bawah lampu sorot lapangan hijau.

Bagi jutaan pasang mata, benda itu bukan sekadar logam mulia, melainkan puncak dari mimpi, keringat, dan air mata sebuah bangsa.

Memahami sejarah trofi piala dunia dari masa ke masa membawa kita pada perjalanan panjang tentang ambisi manusia dan gairah sepak bola.

Sejak edisi pertama di Uruguay tahun 1930 hingga Qatar 2022, trofi ini telah menjadi saksi lahirnya legenda-legenda besar dunia.

Namun, tahukah Anda bahwa piala yang kita lihat sekarang bukanlah piala yang sama dengan yang diangkat oleh Pele pada tahun 1958?

Ada drama pencurian, persembunyian di bawah tempat tidur, hingga perubahan desain total yang mewarnai perjalanan sejarah ikonik ini.


Sumber: Bing Images

Era Jules Rimet: Dewi Kemenangan yang Penuh Drama

Pada awalnya, trofi Piala Dunia bernama "Victory" atau Kemenangan, sebelum akhirnya diubah untuk menghormati sang pencetus turnamen.

Jules Rimet adalah Presiden FIFA asal Prancis yang berupaya keras menyatukan bangsa-bangsa melalui kompetisi sepak bola internasional.

Desain pertamanya dibuat oleh pemahat Prancis bernama Abel Lafleur dengan bentuk yang sangat anggun dan bergaya Art Deco.

Trofi ini menggambarkan Nike, sang Dewi Kemenangan dalam mitologi Yunani, yang sedang mengangkat cawan segi delapan di atas kepalanya.

Ukurannya relatif kecil, hanya setinggi 35 sentimeter dengan berat sekitar 3,8 kilogram, namun nilainya tak terukur oleh angka.

Bahan utamanya adalah perak murni yang dilapisi emas, berdiri kokoh di atas alas batu semi-mulia berwarna biru yang disebut lapis lazuli.

Selama Perang Dunia II, trofi ini harus disembunyikan agar tidak jatuh ke tangan tentara Nazi yang menduduki banyak wilayah Eropa.

Ottorino Barassi, pejabat FIFA asal Italia, menyembunyikannya di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidurnya demi keamanan sang dewi.

sejarah trofi piala dunia jules rimet
Sumber: Bing Images

Misteri Hilangnya Sang Dewi di Brasil

Ada sebuah aturan unik dalam sejarah trofi piala dunia dari masa ke masa yang ditetapkan oleh Jules Rimet sendiri saat itu.

Aturan tersebut menyatakan bahwa negara mana pun yang berhasil memenangkan turnamen sebanyak tiga kali berhak memilikinya selamanya.

Brasil menjadi negara pertama yang mewujudkan impian itu setelah meraih gelar juara dunia ketiga mereka di Meksiko pada tahun 1970.

Pele dan rekan-rekannya membawa pulang Trofi Jules Rimet ke markas Federasi Sepak Bola Brasil di Rio de Janeiro untuk dipamerkan.

Sayangnya, kisah indah ini berakhir tragis pada tahun 1983 ketika trofi asli tersebut dicuri dari lemari kaca yang antipeluru.

Hingga hari ini, trofi Jules Rimet asli tidak pernah ditemukan kembali, dan banyak yang percaya bahwa pencuri telah melelehkannya.

Kini, yang tersisa di Brasil hanyalah replika yang dibuat sebagai pengingat kejayaan masa lalu tim Samba di panggung dunia.

Lahirnya Trofi FIFA World Cup yang Modern

Kehilangan hak atas trofi lama memaksa FIFA untuk mencari desain baru guna menyambut turnamen Piala Dunia edisi tahun 1974.

Sebanyak 53 desain dari seniman di tujuh negara masuk ke meja panitia, namun satu karya seniman Italia berhasil mencuri perhatian.

Silvio Gazzaniga adalah sosok di balik kemegahan trofi yang kita kenal sekarang, yang diberi nama resmi "FIFA World Cup Trophy".

Gazzaniga mendeskripsikan karyanya sebagai penggambaran garis-garis yang muncul dari dasar, naik dalam spiral untuk memeluk dunia.

Dua sosok atlet yang tampak sangat dinamis digambarkan sedang mengangkat bola dunia dalam momen kegembiraan setelah kemenangan besar.

Trofi baru ini memiliki dimensi yang lebih besar dibandingkan pendahulunya, dengan tinggi 36,5 sentimeter dan berat total 6,1 kilogram.

Bahan yang digunakan sangat luar biasa, yaitu emas murni 18 karat yang memberikan kilauan kuning yang sangat mewah dan abadi.

proses pembuatan trofi piala dunia
Sumber: Bing Images

Aturan Kepemilikan yang Ketat

Belajar dari pengalaman pahit kehilangan trofi Jules Rimet, FIFA mengubah aturan kepemilikan trofi baru ini secara signifikan.

Kini, tidak ada lagi negara yang diizinkan untuk menyimpan trofi asli secara permanen, meski mereka juara berkali-kali.

Trofi asli tetap menjadi milik FIFA dan disimpan dengan pengamanan super ketat di Museum Sepak Bola Dunia FIFA di Zurich, Swiss.

Negara pemenang hanya diberikan kesempatan untuk mengangkat trofi asli tersebut sesaat setelah pertandingan final berakhir.

Setelah perayaan resmi di lapangan, trofi asli akan diambil kembali oleh petugas FIFA untuk disimpan di tempat yang aman.

Sebagai gantinya, tim juara akan membawa pulang replika perunggu berlapis emas yang disebut "FIFA World Cup Winners' Trophy".

Di bagian bawah trofi asli, terdapat lapisan perunggu yang bertuliskan nama-nama negara pemenang sejak edisi tahun 1974 silam.

Setiap empat tahun, nama pemenang baru akan diukir di sana, menciptakan catatan sejarah yang akan terus tumbuh sepanjang masa.

Ruang di bagian bawah trofi diperkirakan akan penuh pada edisi Piala Dunia 2038, yang memicu spekulasi tentang desain baru nantinya.

Filosofi dan Makna di Balik Emas

Mengapa trofi ini begitu dipuja? Jawabannya terletak pada simbolisme mendalam yang disematkan oleh Gazzaniga dalam karyanya.

Dunia yang diangkat bukan sekadar bola, melainkan beban tanggung jawab dan kehormatan yang dipikul oleh para pahlawan bangsa.

Permukaannya yang tidak rata menggambarkan tekstur bumi yang dinamis, mencerminkan semangat kompetisi yang keras namun tetap indah.

Warna emas melambangkan kemurnian sportivitas, sementara dua lapisan perunggu hijau malachite di dasarnya memberi kesan membumi.

Bagi para pemain sepak bola, menyentuh trofi ini adalah kasta tertinggi dalam karier mereka yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.

Setiap detail dalam sejarah trofi piala dunia dari masa ke masa mengajarkan kita bahwa kejayaan butuh perjuangan yang luar biasa.

Anda bisa membaca ulasan lebih lengkap mengenai profil pemain legendaris di Laman Resmi FIFA atau artikel olahraga lainnya.

Kesimpulan: Warisan yang Tak Tergantikan

Perjalanan trofi ini dari tangan Jules Rimet hingga ke pelukan Lionel Messi di Qatar adalah bukti bahwa sepak bola adalah bahasa universal.

Meskipun bentuk dan namanya berubah, esensi yang dikandungnya tetap sama: pencarian jati diri melalui persaingan yang sehat.

Trofi ini akan terus berkeliling dunia, menginspirasi anak-anak di gang sempit hingga akademi mewah untuk terus bermimpi besar.

Sejarah trofi piala dunia dari masa ke masa akan selalu menarik untuk diikuti, seiring dengan berkembangnya drama di lapangan hijau.

Kita tunggu siapa yang akan mengangkat beban emas 6,1 kilogram ini pada edisi berikutnya di Amerika Utara tahun 2026 mendatang.

Apakah sejarah baru akan tercipta, ataukah kekuatan lama yang akan kembali mendominasi panggung sepak bola paling bergengsi ini?

Sumber: Arsip Sejarah FIFA / Jurnalis Internal